SEKILAS INFO
: - Senin, 01-03-2021
  • 8 bulan yang lalu / Link Website Cek kelulusan Siswa/i Gelombang II SMKN 4 Kupang : https://smkn4kupang.sch.id/agenda/ Link Download : https://smkn4kupang.sch.id/download/
SMKN 4 Kupang Gelar Upacara Perayaan HUT RI ke-75, Dengan Balutan Tenun Adat Motif NTT

KUPANG-smkn4kupang.sch.id Momentum peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2020 yang mengambil tema ”Indonesia Maju” ini dimaknai dengan penuh rasa syukur, walaupun ditengah bencana global Coronavirus ini, kita masih dapat menikmati anugerah kemerdekaan. “Hari ini saya menyampaikan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75, walaupun kita masih ada didalam masa pandemik Covid-19. Namun peringatan HUT RI ke-75 tahun ini, merupakan perayaan yang sangat unik, karena kami di SMKN 4 Kupang itu hanya melaksanakan upacara bendera dengan tanpa menghadirkan siswa-siswi di sekolah,” ungkap Kepala SMKN 4 Kupang, Semi Ndolu, S.Pd usai upacara pengibaran bendera sang saka merah putih. Ditemui di ruang kerjanya, Senin 17 Agustus 2020, Kepsek Semi menjelaskan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan kali ini terasa berbeda dibandingkan dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan upacara bendera pesertanya hanya dihadiri para guru dan pegawai tata usaha.

“Hari ini kami laksanakan upacara pengibaran bendera merah putih tanpa siswa-siswi, yang hadir upacara hari ini para guru dan pegawai tata usaha dengan mengenakan kostum merah putih dalam busana dan balutan tenun adat motif NTT dari berbagai macam daerah,” jelas Semi. Lanjut Semi, satu pesan yang saya sampaikan kepada teman-teman guru dan pegawai juga anak-anakku yang mengikuti upacara bendera secara Live Streaming dari rumah, bahwa kita menggunakan model manajemen anatomi tubuh. “Manajemen anatomi tubuh (kebersamaan dan persatuan, red) disini, saya sampaikan ibaratnya seperti satu tubuh dengan banyak anggota. Tidak bisa satu tubuh hanya terdiri dari kepala, tidak hanya terdiri dari telinga atau hanya terdiri dari kaki atau tangan. Tetapi tubuh itu terdiri dari berbagai anggota. Dan karena itu, kaki atau tangan tidak bisa bilang, dia tidak butuh kepala. Begitupun kepala; tidak bisa bilang saya tidak butuh tangan; saya tidak butuh kaki, saya tidak butuh mata, saya tidak bisa bilang tidak butuh mulut, dan lain-lain. Karena itu dibutuhkan sebuah harmonisasi dalam nuansa kekeluargaan yang tinggi untuk kita bisa merajut satukan nilai-nilai yang pernah ada,” terang Semi. Semi  mengharapkan semangat juang para pendahulu harus tetap dikobarkan di sanubari  setiap guru, pegawai dan siswa, sebagai salah satu cara mengenang jasa-jasa mereka yang telah gigih berjuang di tengah keterbatasan dan kesederhanaan pada masa itu, mengorbankan jiwa raga tanpa mengenal perbedaan suku, agama bahkan ras apalagi status sosial untuk mengantarkan bangsa Indionesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan yang maju, berdaulat adil dan makmur. Tentang restorasi kebangkitan pendidikan di NTT, lanjut Semi, sesuai dengan kebijakan Bapak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. “Bicara tentang Restorasi, bicara dua hal ; yang pertama restorasi bicara tentang bagaimana mengembalikan hal-hal itu, nilai-nilai budaya, nilai-nilai karakter, nilai-nilai persatuan dan kesatuan tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan ras yang dulu pernah ada, yang walaupun hanya menggunakan bambu runcing, Indonesia bisa merdeka melawan para penjajah. Nilai-nilai itu harus dikuatkan kembali atau di kembalikan. Lalu Restorasi pendidikan ini juga mengandung makna. Yang Kedua adalah, bagaimana kita melakukan sebuah terobosan perubahan dengan sebuah transformasi secara komprehensif berbagai bidang; katakanlah ada pemunduran-pemunduran etos kerja oleh pandemi Covid-19; mungkin semangat kerja mulai memudar, kinerja mulai menurun, oleh karena itu saatnya sekarang NTT Bangkit, NTT Sejahtera,  kita galang kebersamaan diantara guru, para siswa, para pegawai dan semua stakeholder di dunia Pendidikan, untuk kita bisa saling bahu membahu, bersinergi dan bisa menggapai apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional kita,” ujar Semi. Lebih lanjut, Semi mengatakan Indikator keberhasilan sebuah SMK sebagai lembaga pendidikan, bukan dilihat dari berapa jumlah tamatannya, tetapi dilihat dari berapa jumlah prosentasi keberkerjaan tamatannya. “Bukan soal berapa yang tamat dari sekolah itu, tetapi berapa yang terserap di dunia kerja dan dunia industri. Itulah indikator keberhasilannya. Karena itu, kita sedang mengejar apa yang disebut dengan tingkat penyerapan lulusan. Sehingga di SMKN 4 ini kami sedang melakukan program dual program dengan mengadakan Link and Match dengan menurunkan siswa ke perusahaan dengan mengikuti praktek lapangan selama kurang lebih 6 bulan. Dan itu akan memberikan dampak pengalaman secara empiris kepada anak-anak kita. Selain mereka belajar praktek dan juga teori di sekolah, tapi mereka langsung mengalami sendiri di dunia kerja terkait dengan pola-pola kerja, etos-etos kerja, target-target pencapaian dalam bekerja. Kemudian soft skill mereka; katakanlah berkaitan budaya kerja di perusahaan itu mereka pelajari semua. Sehinnga kita harapkan, ini ke depan SMK tidak lagi sebagai penyumbang pengangguran tetapi juga menjadi sebuah problem soft skill jadi memberikan solusi terhadap persoalan bangsa dalam hal angka kemiskinan dan kebodohan dan lain-lain,” terang Semi.

Semi mengingatkan kembali beberapa hal yang yang disampaikan Bapak Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat bahwa di beberapa daerah di NTT itu termasuk daerah penyumbang kebodohan, kemiskinan; dan ini tentu bukan sebuah ejekan, tetapi ini merupakan pemantik dari pemimpin kita untuk bagaimana mendorong kita; kalau kita tidak mau untuk tertinggal dari daerah lain maka kita harus bersama-sama bersinergi dengan cara kita masing-masing kita melakukan terobosan perubahan. “Terkait itu semua, terkhusus pembelajaran kejuruan, kita lakukan secara tatap muka secara terbatas dan secara sif. Jadi ketentuan 50 persen maksimal dari jumlah siswa dalam rombongan belajar. Jadi kalau ada 36 berarti 50 persen itu adalah maksimal 18 orang; boleh kurang dari itu, tidak boleh lebih dari itu,” jelas Semi. Sementara itu, ketua komite SMKN 4 Kupang, Melianus Benggu mengatakan, HUT RI ke-75 tahun 2020 ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena adanya masalah pandemik Covid-19. Namun tertolong dengan adanya oleh tehnologi. “Segala upaya dilakukan oleh pihak sekolah; orangtua maupun masyarakat luas, dalam masa pandemik Covid-19. Semua di tolong oleh Teknologi sehingga kita tetap berkumpul walaupun secara virtual. Mari kita manfaatkan tehnologi secara baik. Sehingga berbagai aktivitas yang sekarang dibatasi secara fisik bisa dilakukan secara virtual khususnya di hari perayaan HUT RI ke-75,” ungkapnya. Bicara tentang tentang teknologi, dikatakan Melianus, “omong-omong (bicara, red) tentang tehnologi; itu kan omong tentang biaya; baik itu orangtua pembiayaan untuk segala macam. Jadi, ini betul berkorban bersama-sama dalam situasi sulit seperti ini. Dan kita sangat berharap ini cepat berlalu,” tandas Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Kota Kupang itu. Melianus yang akrab disapa Nus, mengharapkan kepada siswa-siswi SMKN 4 Kupang, ketika anak-anak mengalami kendala, selalu komunikasikan dengan pihak sekolah.

“Saya mengharapkan bila mana para siswa-siswi mengalami kendala dalam pendidikan terutama dalam hal pembelajaran secara online agar berkomunikasi kepala guru dan kepada pihak sekolah. Karena diharapkan sekolah harus memberikan pelayanan terbaik termasuk kepada anak-anak yang tidak memiliki latar pendukung dalam pembelajaran secara online dan yang belajar dari rumah secara manual. Sehingga diharapkan sekolah bisa mengupayakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak-anak,” harap Eks Lurah Naimata periode 2012-2018 silam itu.

 

Sumber: ranaka-news 

TINGGALKAN KOMENTAR

Video Terbaru

Maps Sekolah

Statistick Pengunjung

  • 1
  • 445
  • 1.290
  • 74.700